Empat Sila Utama Pola Hubungan

Berprilaku dengan 4 Sila Dasar Utama Pola Hubungan dengan apa yang ada di luar diri kita :

1. “Eling Lan Bekti marang Ghusti Kang Murbeng Dumadi” : artinya, kita yang Eling, seyogyanya harus selalu mengingat dan menyembah Ghusti (Tuhan Yang Maha Esa) dalam setiap tarikan nafas kita. Dimana Ghusti yang Esa telah memberikan kesempatan bagi kita untuk hidup dan berkarya di alam yang Indah ini.

2. “Setyo marang Penggede Negoto”: artinya, sebagai manusia yang tinggal dan hidup di suatu wilayah, maka adalah wajar dan wajib untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang di keluarkan pemimpinnya yang baik dan bijaksana.

3. “Bekti marang Bhumi Nusontoro” artinya, sebagai manusia yang tinggal dan hidup di bumi nusantara ini, wajar dan wajib untuk merawat dan memperlakukan bumi ini dengan baik, dimana bumi ini telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya. Dengan berbakti dan menjaga kelestarian Alam, maka alam akan memberikan yang terbaik untuk kita yang hidup di atasnya.

4. “Bekti Marang Wong Tuwo” : artinya, kita tidak dengan serta merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantara Ibu dan Ayah, maka hormatilah, mulyakanlah orang tua yang telah merawat kita. Berbakti kepada Ayah dan Ibu yang telah memberikan kita jalan untuk meraih kehidupan disini.

5. “Bekti Marang sedulur Tuwo” : artinya, menghormati saudara yang lebih tua dan lebih mengerti dari pada kita, baik tua secara umur, secara derajat, pengetahuan maupun kemampuannya.

6. “Tresno marang kabeh kawulo Mudo” : artinya, menyayangi kawulo yang lebih muda, memberikan bimbingan, dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kepada yang muda. Dengan harapan, yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.

7. “Tresno marang sepepadaning manungso” : artinya, yang perlu diingat dan dicamkan dalam hati yang terdalam adalah, bahwa semua manusia sama nilainya dihadapan Ghusti”. Karenanya, hormatilah sesamamu, dimana mereka memiliki harkat dan martabat yang sama dengan mu, dan sederajat dengan manusia lainnya. cintailah sesamamu dengan tulus ikhlas.

8. “Tresno marang sepepadaning Urip” : artinya, semua yang di ciptakan Ghusti adalah mahluk yang ada karena kehendak Ghusti yang Kuasa, karena mereka memiliki fungsi masing masing, dalam melestarikan kita bersama alam ini. Dengan menghormati semua ciptaanNya, maka kitapun telah menghargai dan menghormatiNya.

9. “Hormat marang kabeh agomo “ : artinya, hormatilah semua agama atau aliran, dan para penganutnya. Agama adalah ageming aji, yang mengatur dan menata diri meng-Olah Roso untuk menjadikan manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur.

10. “Percoyo marang Hukum Alam” : artinya, selain Ghusti menurunkan kehidupan, Ghusti juga menurunkan Hukum Alam dan menjadi hukum sebab akibat, siapa yang menanam maka dia yang menuai. Kita ini hidup di alam dualitas, dan akan terikat dengan hukum-hukum yang ada selama masih berdiam di pangkuan alam tersebut, dan hormatilah alam dan hukumnya.

11. “Percoyo marang kepribaden dhewe tan owah gingsir” : artinya, manusia ini rapuh, dan hatinya berubah-ubah, maka hendaklah menyadarinya, dan dapat menempatkan diri di hadapan Ghusti, agar selalu mendapat lindungan dan rahmatNya, dalam menjalani Hidup dan kehidupan ini. Dengan terus melakukan Olah Roso, berarti kita terus menata diri demi meraih pribadi yang berbudi pekerti luhur memayu hayuning bawono.

12. “Bekti Marang Mahluk Lainnya” : artinya, menghormati mahluk lain ciptaanNya juga, seperti ia menghormati manusia lainnya “Tresno marang sepepadaning manungso”

12 Makna di atas sebenarnya merupakan penjabaran, bagaimana sebaiknya seorang Kejawen harus berprilaku dengan 4 Sila Dasar Utama Pola Hubungan dengan apa yang ada di luar dirinya:
1. Hubungan Manusia dengan Ghusti (Tuhan Yang Maha Esa)
2. Hubungan Manusia dengan Alam Semesta
3. Hubungan Manusia dengan Mahluk lain
4. Hubungan Manusia dengan sesama Manusia

Dalam urutan di atas, jelas, bahwa Hubungan Manusia dengan sesama Manusia adalah hubungan yang paling Rendah. Di sinilah filosofinya, bahwa Manusia harus menyayangi semua kehidupan, agar hidup ini bahagia. Jadi seorang Kejawen Sejati, jangan pernah mengatakan bahwa Manusialah mahluk yang paling sempurna. Karena pikiran itu, akan membuat diri ini ingin menang sendiri.

Catatan :
Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan “Sopan Santun” dengan Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb)

Menyayangi semua kehidupan bukan berarti memberi toleransi pada kejahatan yang dilakukan oleh Pihak Lain (Orang lain dan Mahluk Lain)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s