Pengalaman Spiritualku

Dari kecil, saya memang orang yang tidak mudah percaya dengan hal-hal diluar logika, apalagi yang menentang logika. Dari kecil pula, saya adalah orang yang sangat tidak senang dengan standar ganda. Juga hal yang saya paling benci adalah, orang-orang yang berpenampilan agamis, tetapi amoralis.

Pengalaman spiritual saya, mencoba untuk mengikuti, dan mempelajari, mulai dari Agama Hindu – yang artinya “Kebenaran Abadi” (3102 sampai 1300 Sebelum Masehi – Agama yang diyakini segenap orang sebagai Agama Pertama di Dunia), dan baru diikuti oleh Agama-agama Rasul.

Dari perjalanan spriritual saya tersebut, saya terus terpanggil oleh Agama Lokal yang pernah saya pelajari secara sekilas, yakni Agami Jawi yang eksis pada tahun (4425 tahun Sebelum Masehi). Dimana keluarga saya sebenarnya, mayoritas memeluk Agama Islam (570 M – 632 M), dan sebagian memeluk Kristen Katolik (1 Masehi).

Tetapi memang, Agama (Kepercayaan dan Keyakinan), kalau tidak percaya dan tidak yakin, apalagi tidak cocok di hati, selalu saja mengganggu pikiran dan hati pemeluknya. Sehingga pada 12 Oktober 2007, saya telah bulat memutuskan untuk menjadi seorang Kejawen Sejati, dan meninggalkan Agama yang tertera di KTP saya.

Sebelum benar-benar ingin memeluk Agami Jawi, saya mohon izin kepada Ibu saya, kalau saya akan menjadi, atau menjalani Agami Jawi secara utuh, yakni sebagai seorang Kejawen Sejati atau Kejawen tanpa embel-embel Agama lain (Islam Kejawen, Kristen Kejawen, atau apapun), seperti yang banyak dianut oleh orang-orang Indonesia saat ini.

Pesan Ibu saya, “Kalau kamu mau jadi seorang Kejawen Sejati, jangan pernah belajar pada orang lain.” Pesan singkat itu, pada awal-awalnya, membuat saya terus bertanya-tanya. Tetapi, setelah kurang lebih tiga bulan saya lakoni semua dengan Olah Roso, maka mulai berdatangan jawaban-jawaban. Hal ini menjawab semua pertanyaan, mengapa saya tidak boleh belajar pada orang lain.

Dari waktu ke waktu, saya mulai mendapatkan pencerahan, sampai-sampai hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, muncul dengan sendirinya. Dari mulai dasar-dasar ucapan Doa kepadaNya, hingga cara sembahyang.

Catatan:
Saya akan sharing pengalaman saya dalam Blog saya ini. Tetapi saya yakin, kalau Anda ingin menjadi seorang Kejawen Sejati, Anda pun dapat melakukannya dengan cara Olah Roso. (Filosofi dasar Olah Roso adalah empati, yakni; kalau kamu tidak mau disakiti, jangan menyakiti, tetapi kalau kamu ingin dihormati orang lain, kamu pun harus menghormati orang lain.)
Karena tidak satu Manusia pun di dunia yang dapat mendikte pola hubungan seseorang dengan Sang Pencipta, karena setiap orang memiliki hubungan yang khusus dan unik langsung kepada Sang Pencipta. Apalagi jika ada Manusia yang mengaku-aku dirinya dapat menyeragamkan polah hubungan Manusia dengan Sang Pencipta.

Sebagai analogi, Kedjawen memberikan Anda pancing dan bukan ikannya. Dengan demikian, Anda akan mendapatkan pemahaman yang hakiki mengenai Sang Pencipta dalam diri Anda (Manunggaling Kawulo Ghusti).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s